Jumat, 11 Februari 2011

Jeritan Dara Mantan Perawan

Malam ini tanpa sengaja aku menemukan sepucuk surat di jalan sewaktu aku keluar dari rumah untuk membeli sebungkus nasi. Surat yang masih baru karena belum dikotori oleh debu dan hanya dibasahi oleh embun malam, padahal hujan telah melanda kotaku sejak sore. Bentuknya memang surat dan dengan sedikit perasaan penasaran kuambil surat tersebut dan aku terus menuju warung untuk membeli sebungkus nasi.
Sesampainya dirumah aku beranikan diri membuka dan membaca surat tersebut yang ditulis di kertas putih bercapkan bibir.
Dunia, 1 January 2011, 02.45.11 WIB Kepada Kekasihku Pria yang bersemanyan di hatiku
Salam air mata dan kehangatan cinta
Kutuliskan sebuah jeritan kepadamu, agar engkau juga tahu isi hatiku, isi hati yang tak bisa ku ungkapkan dengan lisan kepadamu walaupun hanya melalui telepon.
Duhai kekasihku.
Belum berselang sehari kisah mesra yang kita bina, kisah mesra yang mampu menembus angan dan harapanku tuk hidup bersamamu di dunia ini. Semoga dan kuharap kau juga tidak langsung melupakan semua itu, begitu juga aku, sayang. Masih terbanyang di mata ini, awal kedatanganmu kerumahku, berpamitan pada kedua orang tuaku dan akhirnya kita berselancar diatas motor menuju tempat yang kau (bukan aku) inginkan.
Hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk mencapai rumah yang telah ditata bagaikan tempat hiburan malam yang katamu adalah rumah kawanmu. Aku terpaku, terdiam, hening dan heran. Walau sebenarnya tempat ini ramai oleh muda - muda  dan musik yang hingar bingar.
Duhai kekasihku.
Kau bisikkan kata sayang dan janji ke telinga mungilku sambil kau dekapkan tanganmu di pinggangku. Mesra dan ini yang ku inginkan. Hanya ini, tak lebih. hanya rasa sayang dan nyaman berada dalam dekapanmu.
Waktu terus berlalu dan pesta terus berlanjut. Aku ingat semua itu sayang, walau tubuhku sudah mulai terlihat pusing oleh ulah kawan - kawan mu yang menyodorkan segelas minuman berwarna ungu yang tak dan belum pernah aku lihat apalagi aku rasakan. Aku menegaknya dan matapun terasa berat. Aku berjoget, begitu juga kau. Semua berjoget dan menari riang.
Kulihat jam dinding dengan samar menunjukkan angka 11 lewat 47 menit malam itu. Semua semakin bersemagat, suara terompet sudah mulai di uji coba, sebagai persiapan menyambut tahun baru. Tubuhku sudah mulaimlemas, pikiranku waktu itu sudah mulai tidak waras, aku hanya ingin terus berada dalam dekapanmu, dalam kecupanmu dan dalam belaianmu.
Aku terlelap dan tak sadrkan diri sebelum terompet kemeriahan tahun baru ditiup serentak bersama suara - suara mercun yang mnggelegar di udara.
Sayang, aku tak tahu berapa lama aku tak sadarkan diri, aku tak tahu apa yang telah terjadi dan aku hanya tahu bahwa aku terbangun masih disana, masih ramai tapi bukan di ruangan yang tadi. Itu tempat tidur sayang dan aku hanya diselimuti kain sarung tanpa pakaian yang aku kenakan tadi.
sayang, aku tak bermaksud untuk begini dalam merayakan tahun baru ini karena baru kali ini aku kelaur di malam tahun baru yang katanya sangat menyenangkan tetapi mengapa harus berakhir pahit bagiku.
Sayang, kau mengatakan dengan tegar epadaku bahwa kau telah merenggut perawanku, telah khilaf karena tak bisa menahan nafsu di depan ku, di depan cewekmu yang telah tak berdaya. Kau dengan bersikap dewasa berjanji untuk bertanggung jawab kepaku. sayang aku bangga padamu. Kau mau berjanji dan aku percaya janjimu. Alku tak sedih lagi walau perawanku telah kau renggut karena engkaulah yang au cintai. Aku harap kau mengerti sayangku.
Setelah beres-beres dan pamitan pada kawan-kawan yang lain yang juga sudah hendak pulang. Kau ajak diriku meninggalkan tempat pertama kali aku bercumbu dengan pria yang aku cintai. Saat itu aku masih bahagia sayang dan aku tak ingin berpikri aku akan menderita.
Jam tanganku telah menunjukkan pukul 1.20.11 WIB, ketika aku sampai kekamarku. Kita beruntung karena orangtuaku tak mengunci pintu rumah sehingga aku bisa masuk tanpa membangunkan mereka. Kau pun pamit dan hilang di kegelapan malam. Mungkin hanya itu saat-saat terakhir kita sayang. Saat - saat kebersamaan kita. Karena setelah aku rebahkan badan, rasa dosa telah berbuat nista denganmu terus menghantuiku, seakan menguntitku dan berteriak; kau wanita jalang”. Aku tak kuasa sayang, aku tak sanggup. Aku tak mampu dan tak bisa. Batinku tertekan dan aku shock sayang.

Akhirnya kuputiuskan untuk menulis sepucuk surat yang kualamatkan kepadamu walau tidak kutulis namamu. Akan kukirimkan kabar ini kepadamu lewat cerita yang kan kau dengarkan dari orang lain.
Seandainya kau masih mengingatku dan masih ingin mengulang kejadian tahun baru itu. Aku siap sayang. Tapi kau pun harus siap karena aku tak mampu hidup lagi di dunia ini karena apa yang telah kuperbuat bersamamu.
Kekasihku.
Ini malam terakhirku dan malam terakhir bagi kita bersama. Dengan berat hati aku terpaksa membayar malu ini dengan nyawaku. Selamat tinggal sayang, bawalah bahagiaku bersamamu dan biarlah kubawa sengsara dan nista kita ke alam lain.
Tertanda kekasihmu
Nista “Sang dara mantan Perawan”

Itulah isi surat empat halam penuh yang dengan berat hati aku publish disini agar tersampaikan kepada kekasihnya. Mohon kawan bisa meneruskan isi surat tersebut agar bisa mudah menemukan sang kekasih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar